MENAHAN DIRI DARI CACIAN ORANG LAIN

Pengarang Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali, menjelaskan bahwa Imam Hasan al-Basri kedatangan seorang lelaki yang berkata, ‘Wahai Abu Said, seseorang telah mengumpatmu.’ Hasan al-Basri berkata, ‘ Biarkanlah, jika aku datang kepadanya, maka aku akan memberinya sepiring kurma.’ Kemudian Hasan al-Basri memerintahkan kepada orang itu, ‘Pergilah kepadanya dan katakan: Engkau telah memberikan kepadaku semua kebaikanmu, dan sebagai imbalannya, aku memberimu sepiring kurma.’ Maka pergilah lelaki itu dan menyerahkan kurma itu kepadanya.
Maksud dari pernyataan di atas, bahwa tiap muslim ketika menjumpai pendengki, pendendam, dan orang yang berselisih atau orang yang menyimpang kelakuannya untuk membalasnya dengan kebaikan.
Selanjutnya, diceritakan ada seorang lelaki berkata kepada Sayyidina Abu Bakar ash-Shidiq, ‘ Demi Allah, wahai Abu Bakar, aku akan mencacimu dengan sesuatu cacian yang kelak akan engkau bawa masuk ke dalam kuburmu.’ Sayyidina Abu Bakar menjawab, ‘Justru cacian itu mengiringimu ke dalam kuburmu, bukan menjadikan amal baikku terkurangi.’
Benarlah apa yang dikatakan oleh Sayyidina Abu Bakar ra., karena suatu cacian tidak akan mengikuti orang yang dicaci, akan tetapi cacian itu malah akan menjadi beban orang yang mencaci yang mana ia telah mengotori lisannya kepada hamba-hamba Allah.
Apakah orang menyangka, bahwa jika ia memaki, mencaci atau mencari suatu kejelekan dari Abu Bakar, maka cacian itu kelak akan mengikuti Abu Bakar ke liang kubur, sungguh anggapan yang keliru.

This entry was posted in Akhlaq and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s