Menghargai Orang Lain

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar ; ManajemenQolbu.Com -Muhasabah Jum’at : Indahnya hidup diantaranya adalah ketika kita berusaha memahami orang lain .Salah satu kelemahan terbesar manusia adalah “dirinya ingin dipentingkan, tetapi dia tidak mementingkan orang lain”, padahal setiap orang pasti ingin merasa dipentingkan.
Mengapa kita tidak disukai orang lain ? karena kita lebih mementingkan diri kita ketika bertemu orang lain. Kita ingin dihormati, disayangi ,dihargai, tetapi pada saat yang sama kita tidak bisa menilai sampai sejauh mana kita bisa menghormati, menyayangi dan menghormati orang lain.
Nabi Muhammad SAW, bila berjumpa dengan orang lain , yang beliau pikirkan adalah “ bagaimana agar membuat orang yang berjumpa dengannnya bahagia dan merasa terhormat “
Suatu saat Nabi bertemu dengan seorang budak yang miskin dan buruk rupa, lalu oleh Nabi didekap dan matanya ditutup dari belakang ,….lalu orang itu bertanya-tanya “ siapa ini…?…siapa ini…..?, lalu ketika mata orang itu dibuka oleh Nabi, kemudian orang itu melihat ke belakang, lalu orang itu berteriak gembira oh……Nabi…!, terlihat sungguh bahagianya orang itu.
Lalu kemudian Nabi berkata “ayo…siapa yang akan membeli budak ini ?..” orang itu berkata lagi…”Ah …mana ada yang akan membeli saya, saya ini miskin, hina dan buruk rupa ,..” lalu Nabi menjawab “ iya kamu miskin, buruk rupa dalam pandangan manusia, tetapi…. tidak dalam pandangan Allah, karena engkau mulia.
Demikian sikap Nabi terhadap orang miskin, tetap berusaha membuat orang itu mulia dan merasa dihargai.
Inilah sebenarnya bagi orang yang ingin memiliki kedudukan di sisi Allah, yaitu orang yang selalu berusaha menjadikan orang lain merasa menjadi bagian yang penting dengan sikap kita, penuh rasa hormat kepada siapapun, berbicara jangan sibuk memotong, jangan menggunakan kata-kata yang melukai hati, dan terus berusaha untuk berpikir keras sehingga orang yang berada di sekitarnya merasa puas..
Beda sekali dengan orang yang tidak memiliki ilmu, dia selalu ingin dihormati, dia ingin dipuaskan , dia ingin disegani , ini tidak akan menjadi kemuliaan., sungguh sangat berbeda sekali dengan Nabi, yang selalu berusaha membuat orang lain merasa dihargai, dan merasa mulia.
Mudah-mudahan kita dapat menghargai orang lain, seperti kita ingin merasa dihargai, Amien.Wallahu ‘alam bishawab.***(mik/mq.com)

This entry was posted in Nasehat-Nasehat and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s